RSS

Arsip Penulis: smp3bandaaceh

Tentang smp3bandaaceh

Tempat Belajar Kita, Padu Ilmu Dan Kerja !!!

Haekal Siraj 1 dari 1000 anak indonesia berprestasi

Haekal siraj siswa kelas IX-9 SMP Negeri 3 Banda Aceh adalah salah satu duta Provinsi Aceh di Tingkat Nasional untuk 1000 siswa berprestasi se-Indonesia. Remaja dengan sosok tampan, berinteligensia tinggi , berprilaku sopan ini di lahirkan di ……… tepatnya pada tanggal       dari pasangan orang tua…….. dan ………….

Sejak duduk di kelas VII prestasi belajar cowok satu ini memang patut kita acungi jempol, selalu meraih nilai baik di tiap semesternya. Selain pintar di bidang akademik haekal juga sayang dan disayangi oleh banyak teman dan guru. Bersikap sopan dan rendah hati menjadi kesehariannya.

berikut adalah kejuaraan-kejuaraan dan event yang di ikuti haekal dalam mengharumkan nama sekolah dan nama Provinsi Aceh :

  1. Lulus seleksi tahap I Lomba Kihajar (kompetisi ilmu pengetahuan yg di adakan oleh Televisi Edukasi Jardiknas ) Provinsi Aceh tahun 2010 dan berhak maju ke seleksi tahap II
  2. Juara I Lomba Menulis Surat untuk Gubernur tingkat SMP bertema Lingkungan Hidup dalam rangka Unsyiah Fair 7.Menghadiri Peringatan Hari Anti Narkoba Internasional Tahun 2010 di Jakarta sebagai 1 dari 1000 siswa berprestasi se-Indonesia

 
20 Komentar

Ditulis oleh pada 7 Agustus 2011 in Uncategorized

 

Suloh Bangsa Nasyid Spentig, salah satu wadah penyaluran bakat dan minat seni Islam

A. Nasyid di SMP Negeri 3 Banda Aceh 

Dibidang seni musik dan suara  selain memiliki group Paduan Suara, Vocal Group Smp Negeri 3 Banda aceh juga memiliki wadah Group Nasyid. Berawal dari tahun 2009 saat menerima Undangan untuk suatu kompetisiNasyid di salah satu sekolah di aceh besar , maka dibentuklah group Nasyid Spentig

Nasyid adalah salah satu bidang seni suara dalam kebudayaan Islam.Biasanya merupakan nyanyian yang mengandungi kata-kata nasihat, kisah para nabi memuji Allah, dan yang sejenisnya. Di masa sekarang ini nasyid banyak dinyanyikan secara Acapela

Aceh Sebagai Daerah yang menerapkan Syariat Islam sudah sepantasnya mengembangkan seni yang satu ini untuk penyaluran bakat dan minat siswa dibidang seni. Akan tetapi fakta menunjukkan banyak generasi muda umumnya dan siswa SMP negeri 3 Banda Aceh  khususnya yang kurang mengenal dan mencintai seni bernyanyi ini. Dari mulai  tidak berbangga hati , menganggap tidak gaul dan tidak keren sampai gengsi tingkat tinggi adalah fenomena dan persepsi salah yang banyak kita temukan di kalangan siswa.

Tugas para guru seni dan guru agama  untuk bahu membahu mengubah persepsi salah tentang nasyid. ” Tak Kenal Maka Tak Sayang ” ungkapan ini yg mungkin terjadi di kalangan generasi muda Aceh, sehingga menjadi tugas pemerintah dan masyarakat untuk sedapat mungkin memperkenalkan dan mencintai seni bernyanyi Islam. Hal ini dapat di lakukan dengan melakukan event-event perlombaan-perlombaan nasyid dan pementasan-pementasan group- group yang telah terbntuk baik di sekolah maupun di masyarakat,sehingga praktisi dan penikmat seni ini dapat terpenuhi.  Beberapa tahun belakangan ini sudah menjadi hal biasa menampilkan group nasyid sebagai hiburan di sebuah acara resepsi pernikahan. ini merupakan kontribusi besar dari masyarakat aceh untuk pergembangan Nasyid.

Dalam perjalanannya group nasyid SMP Negeri 3 banda aceh telah menunjukkan prestasi yang membanggakan. pada tahun 2009 menjadi juara 3 lomba nasyid se- Kota Banda Aceh dan Aceh Besar dan di tahun 2011 menjadi juara pertama Lomba Nasyid tingkat SMP se Provinsi Aceh yang diadakan oleh SMU Modal Bangsa.

Sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk mengajak generasi muda islam mencintai seni bernuansa Islam ini. sebenarnya hal ini tidaklah sulit karena lagu-lagu nasyid sekarang di kemas dalam nuansa yang lebih modern, populer tanpa meninggalkan nilai-nilai ke-Islamannya. Agar hal ini berjalan baik di butuhkan kemauan kita untuk mengembangkan dan mempopulerkan nasyid. Di sekolah misalnya kita menampilkan seni budaya islam ini dalam peringatan hari-hari besar Islam.

 

Doc By Intan Nirmala S.Si

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 7 Agustus 2011 in Uncategorized

 

Laksamana Keumalahayati

Laksamana Keumalahayati

LAKSAMANA KEUMALAHAYAT
Terus terang saya pribadi telah mengenal atau setidaknya mendengar tentang Laksamana Keumalahayati sejak saya duduk di bangku sekolah dasar. Dan alangkah terkejutnya saya saat mengetahui banyak siswa-siswa saya yang tidak mengenal sosok pahlawan aceh ini.Fakta ini saya ketahui secara kebetulan, saat saya menggarap sebuah karya tari kreasi untuk suatu ajang festival tari setingkat SMP (FLS2N, Festival Lomba Seni Siswa Nasional ) suatu Kebetulan tema garapan tari di tahun 2011 ini adalah patriotisme, dan saya secara langsung terpikir untuk menjadikan Laksamana Keumalahayati sebagai tema garapan tari saya .
Pada saat penggarapan tari, untuk menanamkan Wirasa pada para penari (siswa), saya meminta mereka untuk mempelajari biografi singkat dari tokoh yang akan kami tampilkan, saat itulah saya mengetahui bahwa dari 6 penari saya tidak satupun yang mengenal tokoh ini. Selanjutnya saya juga mencoba bertanya pada siswa-siswa lainnya saat pembelajaran di kelas, dan ternyata hanya segelintir anak yang tau dan itupun hanya sebatas pernah mendengar nama Laksamana Keumalahayati.
Kita mengenal sosok pahlawan R.A Kartini yang berbeda generasi dan gaya perjuangannya ,sangat ironis memang, fakta yang saya temui memperlihatkan anak-anak di aceh tidak mengenal sosok hebat dari daerahnya sendiri. Hal ini terjadi karena nama Keumalahayati jarang di sebut atau diperkenalkan kepada mereka. Padahal begitu bangganya mereka (setelah membaca berbagai informasi)saat mengetahui sebuah fakta bahwa Laksamana Keumalahayati merupakan wanita pertama di dunia yang pernah menjadi seorang laksamana, bayangkan, pertama di dunia.
Sang Srikandi Aceh petarung gigih, pemberani , perkasa, berjuang di garis depan memimpin laskar Inong Balee yang disegani lawan dan kawan. ” BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MAMPU MENGHARGAI JASA PAHLAWANNYA” (Ir.Soekarno)
berikut petikan sejarah singkat LAKSAMANA KEUMALAHAYATI  ysang saya rangkum dr berbagai sumber : Sejarah menunjukkan, bahwa di ujung barat kepulauan Nusantara terdapatlah sebuah Kerajaan Islam Aceh Darussalam, yang tercatat sebagai satu dari lima kerajaan Islam terbesar di jamannya. Sebagai sebuah kerajaan yang terletak di ujung barat, maka Kerajaan Aceh Darussalam menjadi pintu gerbang pelayaran di Selat Malaka. Oleh karenanya tidak mengherankan bahwa Kerajaan Aceh Darussalam memiliki Armada Laut yang luar biasa kuatnya.
Dalam perjalanan sejarah, pada maa 1604, sejarah mencatat nama besar seorang pahlawan perempuan yaitu LAKSAMANA KEUMALAHAYATI.
1. Riwayat Hidup
 Laksamana Keumalahayati merupakan wanita pertama di dunia yang pernah menjadi seorang laksamana. Ia lahir pada masa kejayaan Aceh, tepatnya pada akhir abad ke-XV. Berdasarkan bukti sejarah (manuskrip) yang tersimpan di University Kebangsaan Malaysia dan berangka tahun 1254 H atau sekitar tahun 1875 M, Keumalahayati berasal dari keluarga bangsawan Aceh. Belum ditemukan catatan sejarah secara pasti yang menyebutkan kapan tahun kelahiran dan tahun kematiannya. Diperkirakan, masa hidupnya sekitar akhir abad XV dan awal abad XVI.Laksamana Keumalahayati adalah putri dari Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya bernama Laksamana Muhammad Said Syah, putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah Kesultanan Aceh Darussalam sekitar tahun 1530-1539 M. Sultan Salahuddin Syah merupakan putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530 M) yang merupakan pendiri Kesultanan Aceh Darussalam.
Jika dilihat dari silsilah tersebut, maka dapat dikatakan bahwa Laksamana Keumalahayati merupakan keturunan darah biru atau keluarga bangsawan keraton. Ayah dan kakeknya pernah menjadi laksamana angkatan laut. Jiwa bahari yang dimiliki ayah dan kakeknya tersebut kelak berpengaruh besar terhadap kepribadiannya. Meski sebagai seorang wanita, ia tetap ingin menjadi seorang pelaut yang gagah berani seperti ayah dan kakeknya tersebut.
 a. Riwayat Pendidikan
Ketika menginjak usia remaja, Laksamana Keumalahayati mendapatkan kebebasan untuk memilih pendidikan yang diinginkannya. Ketika itu Kesultanan Aceh Darussalam memiliki Akademi Militer yang bernama Mahad Baitul Makdis, yang terdiri dari jurusan Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Setelah menempuh pendidikan agamanya di Meunasah, Rangkang, dan Dayah, oleh karena ia ingin mengikuti karir ayahnya sebagai laksamana, maka ia mendaftarkan diri dalam penerimaan taruna di Akademi Militer Mahad Baitul Makdis. Ia diterima di akademi ini dan dapat menempuh pendidikan militernya dengan sangat baik. Bahkan, ia berprestasi dengan hasil yang sangat memuaskan.Sebagai siswa yang berprestasi, Laksamana Keumalahayati berhak memiliki jurusan yang diinginkannya Ia memilih jurusan Angkatan Laut.
Ketika menempuh pendidikan di akademi ini ia pernah berkenalan dengan seorang calon perwira laut yang lebih senior (data tentang namanya belum diketahui). Perkenalan tersebut berlanjut hingga benih-benih kasih sayang terbangun di antara mereka. Mereka berdua akhirnya bersepakat untuk saling memadu kasih dan menyatukan diri ke dalam cinta. Setelah tamat dari Akademi Militer Mahad Baitul Makdis, keduanya melangsungkan pernikahan.
Setelah menamatkan studinya di Akademi Militer Mahad Baitul Makdis, Laksamana Keumalahayati berkonsentrasi pada dunia pergerakan dan perjuangan. Ia diangkat oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil (1589-1604 M) sebagai Komandan Protokol Istana Darud-Dunia di Kesultanan Aceh Darussalam. Jabatan tersebut merupakan kepercayaan sultan terhadap dirinya, sehingga ia perlu menguasai banyak pengetahuan tentang etika dan keprotokolan.
b. Riwayat Perjuangan
Kisah perjuangan Laksamana Keumalahayati dimulai dari sebuah perang di perairan Selat Malaka, yaitu antara armada pasukan Portugis dengan Kesultanan Aceh Darussalam yang dipimpin oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil dan dibantu oleh dua orang laksamana. Pertempuran sengit terjadi di Teluk Haru dan dimenangkan oleh armada Aceh, meski harus kehilangan dua laksamananya dan ribuan prajuritnya yang tewas di medan perang. Salah satu laksamana yang tewas tersebut adalah suami Laksamana Keumalahayati sendiri yang menjabat sebagai Komandan Protokol Istana Darud-Dunia.
Setelah suaminya meninggal dunia dalam peperangan tersebut, ia berjanji akan menuntut balas dan bertekad meneruskan perjuangan suaminya meski secara sendirian.
Untuk memenuhi tujuannya tersebut, Laksamana Keumalahayati meminta kepada Sultan al-Mukammil untuk membentuk armada Aceh yang semua prajuritnya adalah wanita-wanita janda karena suami mereka gugur dalam Perang Teluk Haru. Permintaan Keumalahayati akhirnya dikabulkan. Ia diserahi tugas memimpin Armada Inong Balee dan diangkat sebagai laksamananya.
Ia merupakan wanita Aceh pertama yang berpangkat laksamana (admiral) di Kesultanan Aceh Darussalam. Armada ini awalnya hanya berkekuatan 1000 orang, namun kemudian diperkuat lagi menjadi 2000 orang. Teluk Lamreh Krueng Raya dijadikan sebagai pangkalan militernya. Di sekitar teluk ini, ia membangun Benteng Inong Balee yang letaknya di perbukitan.
Setelah memangku jabatan sebagai laksamana, Keumlahayati mengkoordinir pasukannya di laut, mengawasi berbagai pelabuhan-pelabuhan yang berada di bawah penguasaan syahbandar, dan mengawasi kapal-kapal jenis galey milik Kesultanan Aceh Darussalam. Seorang nahkoda kapal Belanda yang berkebangsaan Inggris, John Davis, mengungkapkan fakta bahwa pada masa kepemimpinan militer Laksanana Keumalahayati, Kesultanan Aceh Darussalam memiliki perlengkapan armada laut yang di antaranya terdiri dari 100 buah kapal (galey) dengan kapasitas penumpang 400-500 orang.
Kisah perjuangan Laksamana Keumalahayati tidak berhenti di sini. Ia pernah terlibat dalam pertempuran melawan kolonialisme Belanda. Ceritanya, pada tanggal 22 Juni 1586, Cornelis de Houtman memimpin pelayaran pertamanya bersama empat buah kapal Belanda dan berlabuh di Pelabuhan Banten. Setelah kembali ke Belanda, pada pelayaran yang kedua, ia memimpin armada dagang Belanda yang juga dilengkapi dengan kapal perang. Hal itu dilakukan untuk menghadapi kontak senjata dengan Kesultanan Aceh Darussalam pada tanggal 21 Juni 1599. Dua buah kapal Belanda bernama de Leeuw dan de Leeuwin yang dipimpin oleh dua orang bersaudara, Cornelis de Houtman dan Frederick de Houtman, berlabuh di ibukota Kesultanan Aceh Darussalam. Pada awalnya, kedatangan rombongan tersebut mendapat perlakuan yang baik dari pihak kesultanan karena adanya kepentingan hubungan perdagangan.Namun, dalam perkembangan selanjutnya Sultan al-Mukammil tidak senang dengan kehadiran rombongan tersebut dan memerintahkan untuk menyerang orang-orang Belanda yang masih ada di kapal-kapalnya. Ada dugaan bahwa sikap Sultan tersebut banyak dipengaruhi oleh hasutan seseorang berkebangsaan Portugis yang kebetulan menjadi penerjemahnya. Serangan tersebut dipimpin sendiri oleh Laksamana Keumalahayati. Alhasil, Cornelis de Houtman dan beberapa anak buahnya terbunuh, sedangkan Frederick de Houtman tertangkap dan dimasukkan ke dalam penjara (selama 2 tahun)
. Keberhasilan Laksamana Keumalahayati merupakan sebuah prestasi yang sungguh luar biasa.Keumalahayati ternyata bukan hanya sebagai seorang Laksamana dan Panglima Angkatan Laut Kesultanan Aceh Darussalam, namun ia juga pernah menjabat sebagai Komandan Pasukan Wanita Pengawal Istana. Jabatan ini merupakan tugas kesultanan dalam bidang diplomasi dan ia bertindak sebagai juru runding dalam urusan-urusan luar negeri. Ia sendiri telah menunjukkan bakatnya dan menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Ia memiliki sifat dan karakter yang tegas sekaligus berani dalam menghadapi berbagai momen perundingan, baik dengan Belanda maupun Inggris.
Meski begitu, sebagai diplomat yang cerdas, ia dapat bersikap ramah dan luwes dalam melakukan berbagai perundingan.Pada tanggal 21 November 1600, rombongan bangsa Belanda yang dipimpin Paulus van Caerden datang ke Kesultanan Aceh Darussalam. Sebelum memasuki pelabuhan, rombongan ini menenggelamkan sebuah kapal dagang Aceh dengan terlebih dahulu memindahkan segala muatan lada yang ada di dalamnya ke kapal mereka. Setelah itu datang lagi rombongan bangsa Belanda kedua yang dipimpin oleh Laksamana Yacob van Neck. Mereka mendarat di Pelabuhan Aceh pada tanggal 31 Juni 1601. Mereka memperkenalkan diri sebagai bangsa Belanda yang datang ke Aceh untuk membeli lada. Setelah mengetahui bahwa yang datang adalah bangsa Belanda, Laksamana Keumalahayati langsung memerintahkan anak buahnya untuk menahan mereka. Tindakan tersebut mendapat persetujuan Sultan al-Mukammil karena sebagai ganti rugi atas tindakan rombongan Belanda sebelumnya.Pada tanggal 23 Agustus 1601, tiba rombongan bangsa Belanda ketiga yang dipimpin oleh Komisaris Gerard de Roy dan Laksamana Laurens Bicker dengan empat buah kapal (Zeelandia, Middelborg, Langhe Bracke, dan Sonne) di Pelabuhan Aceh.
Kedatangan mereka memang telah disengaja dan atas perintah Pangeran Maurits. Kedua pimpinan rombongan mendapat perintah untuk memberikan sepucuk surat dan beberapa hadiah kepada Sultan al-Mukammil. Sebelum surat diberikan, sebenarnya telah terjadi perundingan antara Laksamana Keumalahayati dengan dua pimpinan rombongan Belanda. Isi perundingan tersebut adalah terwujudnya perdamaian antara Belanda dan Kesultanan Aceh, dibebaskannya Frederick de Houtman, dan sebagai imbalannya Belanda harus membayar segala kerugian atas dibajaknya kapal Aceh oleh Paulus van Caerden (akhirnya Belanda mau membayar kerugian sebesar 50.000 golden).
Setelah itu hubungan antara Belanda dan Kesultanan Aceh berlangsung cukup baik. Kehadiran bangsa Belanda dapat diterima secara baik di istana kesultanan dan mereka diperbolehkan berdagang di Aceh. Sebagai lanjutan dari hubungan baik antara Belanda dan Kesultanan Aceh, maka diutuslah tiga orang untuk menghadap Pangeran Maurits dan Majelis Wakil Rakyat Belanda. Ketiga orang itu adalah Abdoel Hamid, Sri Muhammad (salah seorang perwira armada laut di bawah Laksamana Keumalahayati), dan Mir Hasan (bangsawan kesultanan). Meski sedang dilanda perang melawan kolonialisme Spanyol, pihak Belanda menyambut utusan Aceh tersebut dengan upacara kenegaraan.
Peran diplomatik Laksamana Keumalahayati masih berlanjut. Hal ini bermula dari keinginan Inggris untuk menjalin hubungan dagang dengan Kesultanan Aceh Darussalam. Ratu Elizabeth I (1558-1603 M) mengirim utusan untuk membawa sepucuk suratnya kepada Sultan Aceh al-Mukammil. Rombongan yang dipimpin oleh James Lancaster, seorang perwira dari Angkatan Laut Inggris ini, tiba di Pelabuhan Aceh pada tanggal 6 Juni 1602. Sebelum bertemu dengan Sultan al-Mukammil, Lancaster mengadakan perundingan dengan Laksamana Keumalahayati. Dalam perundingan itu, Lancaster menyampaikan keinginan Inggris untuk menjalin kerjasama dengan Kesultanan Aceh Darussalam. Ia juga berpesan agar Laksamana Keumalahayati memusuhi Portugis dan berbaik hati dengan Inggris. Laksamana Keumalahayati meminta agar keinginan tersebut dibuat secara tertulis dan diatasnamakan Ratu Inggris.
Setelah surat tersebut selesai dibuat, Lancaster diperkenankan menghadap Sultan al-Mukammil.Laksamana Keumalahayati juga berperan besar dalam menyelesaikan intrik kesultanan. Hal ini bermula dari peristiwa penting perihal suksesi kepemimpinan di Kesultanan Aceh Darussalam.
Pada tahun 1603 M, Sultan al-Mukammil menempatkan anak lekaki tertuanya sebagai pendamping dirinya. Namun, rupanya putra tersebut berkhianat terhadap ayahnya dan mengangkat dirinya sebagai Sultan Aceh dengan gelar Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607 M).Pada masa awal kepemimpinannya, berbagai macam bencana menimpa Kesultanan Aceh Darussalam, seperti kemarau yang berkepanjangan, pertikaian berdarah antar saudara, dan ancaman dari pihak Portugis. Tidak ada keinginan kuat dari Sultan Ali Riayat Syah untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan serius. Maka banyak timbul rasa kekecewaan dari punggawa kesultanan, salah satu di antaranya adalah Darmawangsa Tun Pangkat, kemenakannya sendiri. Darmawangsa ditangkap dan dipenjara atas perintah Sultan.
 Pada bulan Juni 1606, Portugis menyerang Kesultanan Aceh Darussalam yang dipimpin oleh Alfonso de Castro. Ketika itu Darmawangsa masih berada di penjara. Ia memohon kepada Sultan Ali Riayat Syah agar dirinya dapat dibebaskan dan dapat ikut bertempur melawan Portugis. Dengan didukung adanya pemintaan Laksamana Keumalahayati, Darmawangsa akhirnya dapat dibebaskan. Mereka berdua akhirnya berjuang bersama dan dapat menghancurkan pasukan Portugis.Oleh karena Sultan Ali Riayat Syah dianggap banyak kalangan tidak cakap lagi memimpin kesultanan, maka Laksamana Keumalahayati melakukan manuver dengan cara menurunkan Sultan Ali Riayat Syah dari tahta kekuasaan. Darmawangsa akhirnya terpilih sebagai Sultan Aceh dengan gelar Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M).
Pada masanya, Kesultanan Aceh Darussalam mencapai zaman keemasan.2. KaryaKarya Laksamana Keumalahayati memang tidak berupa buku atau berbagai bentuk tulisan. Namun demikian, segala bentuk perjuangannya dalam melawan kolonialisme dapat juga dianggap sebagai karya-karya nyatanya. Di antara karya-karya dimaksud adalah sebagai berikut:Ia pernah membangun Benteng Inong Balee dengan tinggi 100 meter dari permukaan laut. Tembok benteng menghadap ke laut dengan lebar 3 meter dengan lubang-lubang meriam yang moncongnya mengarah ke pintu teluk.ia pernah berhasil membunuh Cornelis de Houtman, salah seorang pemimpin kapal Belanda yang pertama kali tiba di Aceh.
 3. Penghargaan
Sebagai bentuk penghargaan terhadap perjuangannya, sebuah serial bertajuk “Laksamana Keumalahayati” telah digarap dengan sutradara Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Adhyaksa Dault. Serial ini berisi 13 episode. Episode perdananya telah diputar di Blitz Megaplex (10 November 2007).
 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 4 Agustus 2011 in TOKOH

 

Visit Banda Aceh 2011 Drumband Competition

Visit Banda Aceh 2011 Drumband Open Competition

Banda Aceh Drumband Open Competition

Dalam event yang berlangsung pada Juni 2011 dalam rangkaian kegiatan  Visit Banda Aceh 2011, GITA BAHANA SUARA SULOH BANGSA DRUMBAND meraih kemenangan  dalam beberapa kategori / nomor lomba yang diadakan . prestasi-prestasi itu antara lain ;

  • Juara 3 kategori Display
  • juara 3 kategori Drum battle
  • juara harapan 1 kategori Speed Mars

Acara ini dilaksanakan bertepatan dengan liburnya anak sekolah, karena pada umumnya yang menjadi peserta adalah siswa/i SD sampai dengan SMU se Aceh.

:

Doc By : Intan Nirmala S.Si
 
12 Komentar

Ditulis oleh pada 4 Agustus 2011 in Uncategorized

 

KI HAJAR DEWANTARA

Ki_hajar_dewantoro.jpgLahir dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, Ki Hajar Dewantara terlahir dalam keluarga kratonYogyakarta. Sebagai golongan ningrat, Ki Hajar Dewantara memperoleh hak untuk mengenyam pendidikan yang layak dari kolonial Belanda. Setelah menamatkan ELS (Sekolah Dasar Belanda), beliau meneruskan pelajarannya ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), sayang sekali lantaran menderita sakit, ia tidak bisa meneruskan pendidikannya di STOVIA.

Berjuang Lewat Tulisan
Tak berhasil menyelesaikan pendidikannya di STOVIA, tak membuat Ki Hajar Dewantara vakum, beliaupun mulai menulis untuk beberapasurat kabar sebagai wartawan muda. Selain itu beliau juga aktif di berbagai kegiatan sosial dan politik. Sebagai seorang wartawan tulisan-tulisan beliau dikenal sangat patriotik dan mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya. Tulisan Ki Hajar Dewantara yang terkenal anatarlain “Seandainya Aku Seorang Belanda” (judul asli: Als ik eens Nederlander was), dimuat dalamsurat kabar de Expres milik Dr. Douwes Dekker, tahun 1913. Artikel ini ditulis sebagai protes atas rencana pemerintah Belanda untuk mengumpulkan sumbangan dari Hindia Belanda (Indonesia), yang saat itu masih belum merdeka, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis.


Masa Pengasingan

Sindiran Ki Hajar Dewantara melalui tulisan-tulisannya di beberapa surat kabar menyulut kemarahan Belanda, puncaknya Gubernur Jendral Idenburg memerintahkan agar Ki Hajar Dewantara di asingkan ke Pulau Bangka tanpa proses peradilan terlebih dahulu. Atas permintaan kedua rekannya yang juga mengalami hukuman pengasingan yaitu dr. Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, pengasingan mereka dilaihkan ke negeri Belanda. Masa pembuangan di negeri Belanda tersebut tidak disia-siakan oleh KI Hajar Dewantara untuk mendalami bidang pendidikan dan pengajaran, hingga akhirnya memperoleh sertifikat Europeesche Akte.

Perguruan Nasional Taman Siswa
Sekembalinya ke tanah air pada tahun 1918, Ki Hajar Dewantara mencurahkan perhatiannya di bidang pendidikan sebagai salah satu bentuk perjuangan meraih kemerdekaan. Bersama rekan-rekan seperjuangannya lainnya, Ki Hajar mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau lebih dikenal dengan Perguruan Nasional Tamansiswa pada 3 Juli 1922. Taman Siswa merupakan sebuah perguruan yang bercorak nasional yang menekankan rasa kebangsaan dan cinta tanah air serta semangat berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Perjuangan Ki Hajar Dewantara tak hanya melalui Taman siswa, sebagai penulis, Ki Hajar Dewantara tetap produktif menulis untuk berbagai surat kabar. Hanya saja kali ini tulisannya tidak bernuansa politik, namun beralih ke bidang pendidikan dan kebudayaan. Tulisan KI Hajar Dewantara berisi konsep-konsep pendidikan dan kebudayaan yang berwawasan kebangsaan. Melalui konsep-konsep itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.

Semboyan Pendidikan Ki Hajar Dewantara
Dalam perjuangannya terhadap pendidikan bangsanya, Ki Hajar Dewantara mempunyai Semboyan yaitu tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan kita, terutama di sekolah-sekolah Taman Siswa.


Pahlawan Pendidikan Indonesia

Di Usia nya yang genap 40 tahun, Ki Hajar Dewantara mencabut gelar kebangsawanannya dan mengganti nama aslinya Raden Mas Soewardi Soerjaningrat menjadi Ki Hadjar Dewantara. Hal ini dimaksudkan agar beliau dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hati. Pada masa pendudukan Jepang, Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai salah satu pimpinan pada organisasi Putera bersama-sama dengan Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur. Dimasa kemerdekaan Ki Hajar Dewantara dingkat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Perjuangan Ki Hajar Dewantara terhadap pendidikan Indonesia membuat beliau layak di anugerahi gelar pahlawan pendidikan Indonesia. Tak berlebihan pula jika tanggal lahir beliau, 2 Mei diperingati sebagai hari pendidikan Nasional untuk mengenang dan sebagai penyemangat bagi kita untuk meneruskan prakarsa dan pemikiran-pemikiran beliau terhadap pendidikan Indonesia.

Doc By : INTAN NIRMALA S.Si

Data dari berbagai sumber

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada 22 Juli 2011 in TOKOH

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.
 
7 Komentar

Ditulis oleh pada 22 Juli 2011 in Uncategorized

 
 
e-Newsletter Disdik

LEMBARAN BERITA DAN DISTRIBUSI INFORMASI SEPUTAR PENDIDIKAN

smp3bandaaceh

Tempat belajar kita, padu ilmu dan kerja

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.